Sabtu, 27 April 2013

Cerpen -- Sebait Puisi Kala Desember


SEBAIT PUISI KALA DESEMBER
                Pagi ini tak seperti pagi yang sudah lalu. Mentari tak lagi malu memamerkan kehangatan sinarnya. Awan abu-abu yang menyembunyikan seribu sinar kehangatan, kini tak ada lagi. Yang ada kini hanyalah awan seputih kapas yang berarak lamban ditiup semilir angin sepoi dengan latar belakang langit biru muda yang membuat suasana menjadi ceria.
                Burung-burung pun juga tak ingin kalah dengan mentari dan rombongan awan. “Cit…Cit…Cit…” suara merdu para burung pun memperindah suasana dan kisah di hari ini. Terbang kesana-kemari dari pohon satu ke yang lain. Seolah-olah pohon-pohon itu, rumah mereka semua, sembari menyenandungkan  lagu indah yang hanya mereka sendiri yang menegrti artinya lagu itu. Hanya mereka yang membuat suasana di tempat ini tak benar-benar sunyi.
                Semangatku pun bergelora karena kehadiran pagi yang penuh warna sukacita ini. Setelah beberapa waktu lalu aku merasa sendiri, sepi, tak ada kawan. Itu karena tetesan air hujan selama satu minggu yang membuat tak seorang pun mengunjungi aku. Aku memang sudah kurang-lebih satu bulan tinggal di sini, di rumah baruku. Jadi setiap hari aku berharap ada orang entah siapa pun itu mau datang ke rumah baruku. Tak diajak mengobrol pun, aku tak mengapa. Yang penting adalah, mereka datang melihatku saja, aku sudah gembira.
                Mulanya aku tak tinggal di sini. Aku tinggal dikost-kostan bersama beberapa teman kuliahku yang Universitas mereka sama denganku. Di rumah kost dihuni oleh dua puluh orang termasuk aku. Dapat dibayangkan betapa riuhnya rumah itu! Ditinggali dua puluh wanita yang dikenal sebagai makhluk yang paling “ribet rempong”.  Setiap hari, masing-masing kami membawa masalahyang berbeda-beda. Mulai dari soal cinta, gossip percintaan, tugas-tugas kampus yang banyak, sampai masalah kewanitaan. Tak ada lagi yang disembunyikan atau dirahasiakan. Semua bicarakan dengan jujur sejujur-jujurnya, “blak-blakan”.
                Aku merindukan semua itu. Suasananya, kebersamaannya, bercanda-tawa bersama, saling berbagi cerita bersama, malahan kadang-kadang saling marahan seperti anak kecil berebut mainan. Apalagi aku dikenal sebagai orang yang tidak bisa diam, hiperaktif, kata mereka.
                Maka saat aku harus berpisah dari mereka semua dan tinggal di tempatku yang baru sendiri, tanpa siapa-siapa, aku menangis setiap malam. Aku masih tidak ingin pisah dari mereka. Semoga saja tidak ada yang mendengar tangisanku ini. Hanya Tuhan dan aku saja yang dapat mendengar. Sebenarnya aku juga tak mau hidup seperti ini. Sebatang kara tak punya siapa-siapa. Tapi takdir masing-masing kita sudah diatur. Kita tak bisa apa-apa. Aku tidak bisa apa-apa, yang ada hanya pasrah.
                Ya Tuhan, kenapa aku harus seperti ini? Kenapa aku seperti menyalahkan takdir yang telah Engkau rancang dan rencanakan? Seharusnya aku tidak mengelak dan yakin bahwa di setiap rancangnan dan rencana-Mu itu baik adanya. Itulah takdir yang telah Tuhan berikan untukku. Dia jauh lebih mengerti apa yang terbaik untuk diriku ini. Maka dari itu Ia menenpatkan aku di sini.
                Seperti pagi indah ini, aku yakin akan ada seseorang yang datang mengunjunngiku. Kalau tidak ada, mengapa Dia membiarkan mentari memamerkan sinarnya di musim penghujan seperti ini? Di bulan Desember. Suatu hal yang menakjubkan. Ketika pikiranku tengah melayang-layang dengan senangnya tentang teman-teman dikost-kostan, rumah baruku, sampai tentang takdir Tuhan, tiba-tiba saja ada sebuah keajaiban!
                Sebuah mobil parkir di depan. Aku berhusaha menajamkan mataku seperti rajawali yang sedang berburu demi apa yang sekarang aku saksikan. Dua sosok, seorang pria gagah dan seorangnya lagi wanita berambut panjang, turun dari kendaraan mereka. Aku membiarkan mereka untuk berjalan mendekatiku.
                Semakin dekat, rupanya aku semakin mampu untuk mengetahui siapa keduanya. Yang wanita berambut panjang, Mela, tak kusangka dia adalah Mela. Mela teman sekampusku, tapi dia bukan teman kostanku dulu. Maka, jadilah kami bersahabat. Mela tahu semua cerita tentang diriku, kehidupanku, dan begitu sebaliknya. Tak ada yang saling kami rahasiakan. Kami sudah seperti kakak dan adik karena kami sama-sama tinggal jauh dari keluarga.
                Dan laki-laki gagah yang datang bersama Mela adalah Kokoh. Tapi dia tak seperti dan sekuat namanya. Apalagi setelah ia berpisah denganku. Lebih tepatnya aku yang meminta kami untuk berpisah saja. Ia tak bisa terima kenyataan itu dan menannyakan alas an mengapa aku sampai melakukan itu. Aku bilang tak tahu, aku tak tahu mengapa aku memutuskan untuk kita berpisah saja, ia tak percaya. Padahal aku benar-benar tidak tahu. Aku sendiri masih tak bisa mengenali apa perasaanku pada saat itu yang membuat aku yakin sekali untuk memutuskan hubungan kami. Hubungan yang bahkan sudah hamper menuju kejenjang yang lebih serius lagi. Mereka berdua tepat berdiri di depanku. Lalu tanpa kupersilahkan, mereka serentak berjongkong di depanku. Kali ini usahaku untuk menahan rasa sesaknya tangisan, gagal.
                Aku sangat yakin, pasti Mela yang membawa Kokoh ke sini. Pasti Kokoh memaksa  Mela, sahabatku itu untuk menunjukkan di mana tempat baruku. Aku sengaja meminta bantuan Mela untuk jangan memberikan informasi apapun tentang diriku kepada Kokoh. Biarkanlah kisah cerita cinta perpisahan kami ini menjadi akhir atas segalanya. Jangan ada lagi kelanjutannya, Kokoh sudah cukup tersakiti oleh ini. Tidak lagi, aku tidak mau menambah sakitnya jika ia tahu tentang hidupku yang sebenarnya. Tetapi sahabatku tak sangggup membiarkan seorang pria yang sebenarnya tak sekokoh namanya dihadapannya. Bahkan aku lebih kuat darinya.
                3…2…1… dan drama pagi hari ini pun benar-benar dimulainya dengan kepala yang tertunduk ke dalam yang disertai isakan-isakan. Mela pun tak kuasa menahan tangisannya. Ya Tuhan aku memohon supaya mereka jangan menangis, Kokoh, Mela, janganlah kalian menangis sampai seperti itu! Tetapi sia-sia, tak ada seorangpun yang bisa mendengar suaraku ini. Aku pun ikut menangis, aku tak kuat. Aku juga benar-benar terluka dengan perpisahan lara ini. Bahkan aku lebih terluka dari luka yang mereka miliki.
                Aku tidak hanya berpisah dengannya dan teman-teman yang lain, tetapi aku juga harus berpisah dengan orang tuaku. Lebih parahnya lagi, aku harus berpisah dengan dunia, tempat di mana aku selama ini berada.
                Isakan tangis itu lama-kelamaan berhenti, akan tetapi itu tak bisa menghentikan isakanku karena kaliamat yang diucapkannya membuat aku seperti ingin hidup kembali! Tetapi itu mustahil akan terjadi.
                Dengan sedikit nada isakan Kokoh berkata, “Aku masih mencintaimu, Bidadariku, sangat mencintaimu. Bagaimana denganmu disana?” Dadaku semakin sesak, seharusnya ia tak menyatakan hal itu. Dia pasti tahu apa jawabanku sekarang. Aku masih sangat-sangat mencintainya! Mela pastilah mengerti akan hal itu. Ia langsung menyentuh pundak Kokoh, dengan isakan tangis yang membuat suasana semakin duka, Mela mengatakan, “Jangan menanyakan hal itu, Ko. Fara pasti akan sedih mendengarnya.”
                Seolah-olah tak menghiraukan kata-kata Mela, Kokoh pun melanjutkan kalimatnya, “Maafkan aku, Bidadariku, tak seharusnya aku membiarkanmu menanggung rasa sakit itu sendirian. Maaf karena aku telah menyalahkanmu padahal aku tidak tahu apa-apa tentangmu.”
                Aku memang sengaja tak memberitahu Kokoh tentang penyakitku ini. Penyakit yang menurut analisa para dokter akan mengambil jatah hidupku dengan sanga cepat. Aku sedikit mencela mereka saat itu, tahu apa mereka (manusia) tentang ajal dan takdir?!
Tetapi lama-kelamaan penyakit itu benar-benar seperti mengambil semua pertahanan atau kekebalan tubuhku. Tanpa kusadari, aku juga ikut membenarkan diagnosa para dokter bahwa mungkin umurku tak lama lagi, mungkin aku tak bisa bertahan hidup lebih lama lagi. Sungguh, aku amat sedih. Tetapi, apa dayaku Tuhan? Aku hanya tak ingin melihat orang lain berlarut-larut dalam kesedihan hanya karena keadaanku yang seperti ini. Dan pikiran itulah yang memutuskan aku untuk merahasiakan hal tersebut sendirian.
Akhirnya aku memutuskan untuk mengakhiri huubunganku dengan Kokoh secara sepihak. Sekarang barulah aku mengerti apa alasanku melakukan hal gila itu. Aku hanya ingin membuat Kokoh siap atas kepergianku nanti. Membiarkan ia menjalani hari-harinya dengan tenang tanpa diriku, tidak malah ikut repot mengurusi penyakitku ini. Biar jika sewaktu-waktu ketiadaanku yang sebenarnya datang, dia sudah terbiasa. Firasatku akan hal itu, datangnya malaikat yang menjemputku memang sangat kuat terasa saat itu.
Dan firasatku itu tak salah! Satu bbulan kemudian, setelah aku memutuskan hubungan dengan Kokoh, aku betul-betul dijemput oleh malaikat bersayap putih bersih dan berwajah pucat pasi dari langit. Kokoh sama sekali tidak tahu tentang berita kematianku itu. Ia sedang berada di luar kota saat itu untuk menyelesaikan proyek kantornya. Tak ada satu pun orang yang memberitahunya pada saat itu karena orang-orang menganggap bahwa apa yang terjadi pada diriku saat ini sudah tak penting lagi bagi Kokoh, karena diantara kita sudah tak ada apa-apa lagi.
Kematianku begitu tenang, begitu mudah, begitu indah. Mungkin karena aku sudah bersiap-siap akan hal itu. Hehehe. Matahari sudah berada diatas ubun-ubun kita saat ini. Mereka berdua pastilah sangat kepanasan. Setelah dia membacakan doa untukku, Kokoh langsung mencium dengan penuh kasih saying nisan yang bertuliskan:




ELFARA binti ARYO DIMA
Lahir
08 April 1989
Wafat
30 November 2009

Secarik kertas berwarna kecoklatan bertuliskan puisi diletakkannnya di atas gundukan tanah yang merupakan rumah baruku sekarang, dengan taburan bunga-bunga yang baru saja mereka taburkan. Kokoh sangat tahu kalau aku menyukai sekali puisi.
Kemudian mereka meninggalkan pemakaman dan rumah baruku. Aku memandang mereka berdua dengan perasaan kacau, hatiku berbisik maafkan aku karena aku telah meninggalkan kalian lebih dahulu.
Setelah mereka benar-benar menghilang dari pandangan mataku, barulah ku membaca puisi yang ditulis oleh Kokoh untukku.
Untuk Bidadariku yang telah
Pergi meninggalkan separuh jiwaku
Tak tahu aku
Apa akan ada lagi Bidadari lain seperti dirimu
Biarlah aku tenggelam dalam berjalannya waktu
Menanti-Nya akan menjemputku
Seperti Dia menjemputmu
Aku rela
Percayalah, aku rela, siap…
Aku tersenyum haru, senang mengetahui isi puisi itu. Kokoh memang bukan laki-laki yang kuat seperti namanya, tetapi dia mampu untuk sedikit kuat, menerima kenyataan meskipun pahit tapi tetap ikhlas.







Karya                                      : Erma  (FKIP B.Inggris – UIR)
Diceritakan kembali oleh                   : Virasari Niken D.K.G ( 29 / 9F )
Read More..