SEBAIT PUISI KALA DESEMBER
Pagi ini tak seperti pagi yang
sudah lalu. Mentari tak lagi malu memamerkan kehangatan sinarnya. Awan abu-abu
yang menyembunyikan seribu sinar kehangatan, kini tak ada lagi. Yang ada kini
hanyalah awan seputih kapas yang berarak lamban ditiup semilir angin sepoi
dengan latar belakang langit biru muda yang membuat suasana menjadi ceria.
Burung-burung pun juga tak ingin
kalah dengan mentari dan rombongan awan. “Cit…Cit…Cit…” suara merdu para burung
pun memperindah suasana dan kisah di hari ini. Terbang kesana-kemari dari pohon
satu ke yang lain. Seolah-olah pohon-pohon itu, rumah mereka semua, sembari
menyenandungkan lagu indah yang hanya
mereka sendiri yang menegrti artinya lagu itu. Hanya mereka yang membuat
suasana di tempat ini tak benar-benar sunyi.
Semangatku pun bergelora karena
kehadiran pagi yang penuh warna sukacita ini. Setelah beberapa waktu lalu aku
merasa sendiri, sepi, tak ada kawan. Itu karena tetesan air hujan selama satu
minggu yang membuat tak seorang pun mengunjungi aku. Aku memang sudah
kurang-lebih satu bulan tinggal di sini, di rumah baruku. Jadi setiap hari aku
berharap ada orang entah siapa pun itu mau datang ke rumah baruku. Tak diajak
mengobrol pun, aku tak mengapa. Yang penting adalah, mereka datang melihatku
saja, aku sudah gembira.
Mulanya aku tak tinggal di sini.
Aku tinggal dikost-kostan bersama beberapa teman kuliahku yang Universitas
mereka sama denganku. Di rumah kost dihuni oleh dua puluh orang termasuk aku.
Dapat dibayangkan betapa riuhnya rumah itu! Ditinggali dua puluh wanita yang
dikenal sebagai makhluk yang paling “ribet
rempong”. Setiap hari, masing-masing
kami membawa masalahyang berbeda-beda. Mulai dari soal cinta, gossip
percintaan, tugas-tugas kampus yang banyak, sampai masalah kewanitaan. Tak ada
lagi yang disembunyikan atau dirahasiakan. Semua bicarakan dengan jujur
sejujur-jujurnya, “blak-blakan”.
Aku merindukan semua itu.
Suasananya, kebersamaannya, bercanda-tawa bersama, saling berbagi cerita
bersama, malahan kadang-kadang saling marahan seperti anak kecil berebut
mainan. Apalagi aku dikenal sebagai orang yang tidak bisa diam, hiperaktif,
kata mereka.
Maka saat aku harus berpisah
dari mereka semua dan tinggal di tempatku yang baru sendiri, tanpa siapa-siapa,
aku menangis setiap malam. Aku masih tidak ingin pisah dari mereka. Semoga saja
tidak ada yang mendengar tangisanku ini. Hanya Tuhan dan aku saja yang dapat
mendengar. Sebenarnya aku juga tak mau hidup seperti ini. Sebatang kara tak
punya siapa-siapa. Tapi takdir masing-masing kita sudah diatur. Kita tak bisa
apa-apa. Aku tidak bisa apa-apa, yang ada hanya pasrah.
Ya Tuhan, kenapa aku harus
seperti ini? Kenapa aku seperti menyalahkan takdir yang telah Engkau rancang
dan rencanakan? Seharusnya aku tidak mengelak dan yakin bahwa di setiap
rancangnan dan rencana-Mu itu baik adanya. Itulah takdir yang telah Tuhan
berikan untukku. Dia jauh lebih mengerti apa yang terbaik untuk diriku ini.
Maka dari itu Ia menenpatkan aku di sini.
Seperti pagi indah ini, aku
yakin akan ada seseorang yang datang mengunjunngiku. Kalau tidak ada, mengapa
Dia membiarkan mentari memamerkan sinarnya di musim penghujan seperti ini? Di
bulan Desember. Suatu hal yang menakjubkan. Ketika pikiranku tengah
melayang-layang dengan senangnya tentang teman-teman dikost-kostan, rumah
baruku, sampai tentang takdir Tuhan, tiba-tiba saja ada sebuah keajaiban!
Sebuah mobil parkir di depan.
Aku berhusaha menajamkan mataku seperti rajawali yang sedang berburu demi apa
yang sekarang aku saksikan. Dua sosok, seorang pria gagah dan seorangnya lagi
wanita berambut panjang, turun dari kendaraan mereka. Aku membiarkan mereka
untuk berjalan mendekatiku.
Semakin dekat, rupanya aku
semakin mampu untuk mengetahui siapa keduanya. Yang wanita berambut panjang,
Mela, tak kusangka dia adalah Mela. Mela teman sekampusku, tapi dia bukan teman
kostanku dulu. Maka, jadilah kami bersahabat. Mela tahu semua cerita tentang
diriku, kehidupanku, dan begitu sebaliknya. Tak ada yang saling kami
rahasiakan. Kami sudah seperti kakak dan adik karena kami sama-sama tinggal
jauh dari keluarga.
Dan laki-laki gagah yang datang
bersama Mela adalah Kokoh. Tapi dia tak seperti dan sekuat namanya. Apalagi
setelah ia berpisah denganku. Lebih tepatnya aku yang meminta kami untuk
berpisah saja. Ia tak bisa terima kenyataan itu dan menannyakan alas an mengapa
aku sampai melakukan itu. Aku bilang tak tahu, aku tak tahu mengapa aku
memutuskan untuk kita berpisah saja, ia tak percaya. Padahal aku benar-benar
tidak tahu. Aku sendiri masih tak bisa mengenali apa perasaanku pada saat itu
yang membuat aku yakin sekali untuk memutuskan hubungan kami. Hubungan yang
bahkan sudah hamper menuju kejenjang yang lebih serius lagi. Mereka berdua
tepat berdiri di depanku. Lalu tanpa kupersilahkan, mereka serentak berjongkong
di depanku. Kali ini usahaku untuk menahan rasa sesaknya tangisan, gagal.
Aku sangat yakin, pasti Mela
yang membawa Kokoh ke sini. Pasti Kokoh memaksa
Mela, sahabatku itu untuk menunjukkan di mana tempat baruku. Aku sengaja
meminta bantuan Mela untuk jangan memberikan informasi apapun tentang diriku
kepada Kokoh. Biarkanlah kisah cerita cinta perpisahan kami ini menjadi akhir
atas segalanya. Jangan ada lagi kelanjutannya, Kokoh sudah cukup tersakiti oleh
ini. Tidak lagi, aku tidak mau menambah sakitnya jika ia tahu tentang hidupku
yang sebenarnya. Tetapi sahabatku tak sangggup membiarkan seorang pria yang
sebenarnya tak sekokoh namanya dihadapannya. Bahkan aku lebih kuat darinya.
3…2…1… dan drama pagi hari ini
pun benar-benar dimulainya dengan kepala yang tertunduk ke dalam yang disertai
isakan-isakan. Mela pun tak kuasa menahan tangisannya. Ya Tuhan aku memohon
supaya mereka jangan menangis, Kokoh, Mela, janganlah kalian menangis sampai
seperti itu! Tetapi sia-sia, tak ada seorangpun yang bisa mendengar suaraku
ini. Aku pun ikut menangis, aku tak kuat. Aku juga benar-benar terluka dengan
perpisahan lara ini. Bahkan aku lebih terluka dari luka yang mereka miliki.
Aku tidak hanya berpisah
dengannya dan teman-teman yang lain, tetapi aku juga harus berpisah dengan
orang tuaku. Lebih parahnya lagi, aku harus berpisah dengan dunia, tempat di
mana aku selama ini berada.
Isakan tangis itu lama-kelamaan
berhenti, akan tetapi itu tak bisa menghentikan isakanku karena kaliamat yang
diucapkannya membuat aku seperti ingin hidup kembali! Tetapi itu mustahil akan
terjadi.
Dengan sedikit nada isakan Kokoh
berkata, “Aku masih mencintaimu, Bidadariku, sangat mencintaimu. Bagaimana
denganmu disana?” Dadaku semakin sesak, seharusnya ia tak menyatakan hal itu.
Dia pasti tahu apa jawabanku sekarang. Aku masih sangat-sangat mencintainya!
Mela pastilah mengerti akan hal itu. Ia langsung menyentuh pundak Kokoh, dengan
isakan tangis yang membuat suasana semakin duka, Mela mengatakan, “Jangan
menanyakan hal itu, Ko. Fara pasti akan sedih mendengarnya.”
Seolah-olah tak menghiraukan kata-kata
Mela, Kokoh pun melanjutkan kalimatnya, “Maafkan aku, Bidadariku, tak
seharusnya aku membiarkanmu menanggung rasa sakit itu sendirian. Maaf karena
aku telah menyalahkanmu padahal aku tidak tahu apa-apa tentangmu.”
Aku memang sengaja tak
memberitahu Kokoh tentang penyakitku ini. Penyakit yang menurut analisa para
dokter akan mengambil jatah hidupku dengan sanga cepat. Aku sedikit mencela
mereka saat itu, tahu apa mereka (manusia) tentang ajal dan takdir?!
Tetapi lama-kelamaan penyakit itu benar-benar seperti mengambil semua
pertahanan atau kekebalan tubuhku. Tanpa kusadari, aku juga ikut membenarkan
diagnosa para dokter bahwa mungkin umurku tak lama lagi, mungkin aku tak bisa
bertahan hidup lebih lama lagi. Sungguh, aku amat sedih. Tetapi, apa dayaku
Tuhan? Aku hanya tak ingin melihat orang lain berlarut-larut dalam kesedihan hanya
karena keadaanku yang seperti ini. Dan pikiran itulah yang memutuskan aku untuk
merahasiakan hal tersebut sendirian.
Akhirnya aku memutuskan untuk mengakhiri huubunganku dengan Kokoh secara
sepihak. Sekarang barulah aku mengerti apa alasanku melakukan hal gila itu. Aku
hanya ingin membuat Kokoh siap atas kepergianku nanti. Membiarkan ia menjalani
hari-harinya dengan tenang tanpa diriku, tidak malah ikut repot mengurusi
penyakitku ini. Biar jika sewaktu-waktu ketiadaanku yang sebenarnya datang, dia
sudah terbiasa. Firasatku akan hal itu, datangnya malaikat yang menjemputku
memang sangat kuat terasa saat itu.
Dan firasatku itu tak salah! Satu bbulan kemudian, setelah aku memutuskan
hubungan dengan Kokoh, aku betul-betul dijemput oleh malaikat bersayap putih
bersih dan berwajah pucat pasi dari langit. Kokoh sama sekali tidak tahu
tentang berita kematianku itu. Ia sedang berada di luar kota saat itu untuk
menyelesaikan proyek kantornya. Tak ada satu pun orang yang memberitahunya pada
saat itu karena orang-orang menganggap bahwa apa yang terjadi pada diriku saat
ini sudah tak penting lagi bagi Kokoh, karena diantara kita sudah tak ada
apa-apa lagi.
Kematianku begitu tenang, begitu mudah, begitu indah. Mungkin karena aku
sudah bersiap-siap akan hal itu. Hehehe. Matahari sudah berada diatas ubun-ubun
kita saat ini. Mereka berdua pastilah sangat kepanasan. Setelah dia membacakan
doa untukku, Kokoh langsung mencium dengan penuh kasih saying nisan yang
bertuliskan:
ELFARA binti ARYO DIMA
Lahir
08 April 1989
Wafat
30 November 2009
Secarik kertas berwarna kecoklatan bertuliskan puisi diletakkannnya di
atas gundukan tanah yang merupakan rumah baruku sekarang, dengan taburan
bunga-bunga yang baru saja mereka taburkan. Kokoh sangat tahu kalau aku
menyukai sekali puisi.
Kemudian mereka meninggalkan pemakaman dan rumah baruku. Aku memandang
mereka berdua dengan perasaan kacau, hatiku berbisik maafkan aku karena aku
telah meninggalkan kalian lebih dahulu.
Setelah mereka benar-benar menghilang dari pandangan mataku, barulah ku
membaca puisi yang ditulis oleh Kokoh untukku.
Untuk Bidadariku yang telah
Pergi meninggalkan separuh jiwaku
Tak tahu aku
Apa akan ada lagi Bidadari lain
seperti dirimu
Biarlah aku tenggelam dalam berjalannya
waktu
Menanti-Nya akan menjemputku
Seperti Dia menjemputmu
Aku rela
Percayalah, aku rela, siap…
Aku tersenyum haru, senang mengetahui isi puisi itu. Kokoh memang bukan
laki-laki yang kuat seperti namanya, tetapi dia mampu untuk sedikit kuat,
menerima kenyataan meskipun pahit tapi tetap ikhlas.
Karya : Erma
(FKIP B.Inggris – UIR)
Diceritakan
kembali oleh : Virasari
Niken D.K.G ( 29 / 9F )